“Festival Ontel Cisadane”


Festival Ontel Cisadane

Tanggerang, 20-21 November 2010,  sebagai penyelenggara KOSTI KORWIL Tanggerang, yang diketuai oleh Everli Erwadi.

Background acara Festival Ontel Cisadane

Acara dihadiri oleh ontelis dari seluruh tanah air yang berjumlah seribu peserta,  Acara ini mengusung Ulang tahun Komunitas Konjti yang pertama dan penggalangan dana untuk korban bencana alam di indonesia.

Donasi Tuk Merapi dari rekan-2 Ontelis

Ketua KOSTI : H Daswara, sedang menaiki DKW hasil lelang diFOC.

Sebagai pemenang lelang motor DKW diacara “Festival Ontel Cisadane” yaitu Bapak Acep Suganda dari CONTRY-Bekasi.

"We are ready" Ontelis CONTRY - Bekasi.

Lumayan kami bisa bermalam dihotel berbintang tujuh dipinggiran sungai cisadane,  bersama rekan-2 Ontelis lainnya.

Asyiknya bersilaturahmi "Hidup Ontelis Indonesia - Hidup KOSTI".

KOSTI Korwil Bekasi (Dr Halim) menyerahkan Donasi tuk Merapi.

  • Stan Klitikan
  • Ini yg dicari Ontelis
  • Hayamas- H Basuki
  • Sejarah Sungai Cisadane


    Sungai yang mata airnya berada di Gunung Salak-Pangrango dengan posisinya sebelah selatan Kabupaten Tangerang ini merupakan sungai cukup besar melintasi Tangerang. Panjang sungai sendiri sekitar 80 kilometer dengan bermuara di Laut Jawa.

    Sejak dahulu sungai Cisadane telah dimanfaatkan sebagai pengairan. Kompeni Belanda sendiri telah membuat sebuah bendungan guna mengatur debit air sungai Cisadane yang akan mengalir ke Batavia. Jika tidak demikian dikhawatirkan kota Batavia terendam banjir cukup parah.

    Debit air sungai sendiri sangat bergantung curah hujan di daerah Bogor. Jika curah hujan tinggi bisa dipastikan debit air tinggi bahkan sampai akibatkan meluap. Saat penulis kecil, jarak rumah tidak terlalu jauh dari sungai. Pernah sekali warga sekampung dihebohkan air sungai yang meluap. Ketika itu mudah sekali mendapatkan ikan Lele, Sapu-Sapu, Gabus, dan lainnya. berbondong-bondong warga memenuhi tepi sungai dengan membawa ember. Senang sekali ketika itu bisa panen ikan tanpa repot memancing.

    Jembatan di Sungai Cisadane malam hari "sangat indah"

    Entah apakah ikan-ikan masih banyak di sungai Cisadane, lantaran masih adanya beberapa industri yang membuang limbahnya ke aliran sungai. Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang saja pernah mengeluarkan laporan bahwa sungai kebanggan masyarakat Tangerang ini telah tercemar zat limbah seperti sianida, tembaga, seng, dan sebagainya. Ironinya, air sungai digunakan sebagai bahan baku produksi PDAM Kota dan Kabupaten Tangerang yang mensuplai kebutuhan air bersih masyarakat.

    Untunglah masih ada perhatian pemerintah untuk menjaga kelestarian sungai Cisadane. Setidaknya pemerintah melarang pendirian rumah sepanjang bantaran sungai. Jika tidak, tentu limbah rumah tangga menambah pencemaran. Bisa jadi air sungai yang semula coklat berubah menjadi hitam dan bau seperti nasib sejumlah sungai di kota Jakarta. Pemerintah juga bertindak keras terhadap industri yang masih bandel membuang sampah ke sungai.

    Bendungan Cisadane tempo dulu

    Bendungan Cisadane saat ini dengan nama "Bendungan Pintu Sepuluh"

    Pernah ada rencana menjadikan sungai Cisadane sebagai objek wisata dengan menyediakan perahu yang bisa disewa untuk susuri sungai. Hanya saja, rencana yang sudah terlakana itu tidak ditangani serius. Saat ini paling setahun sekali digelar Festival Perahu Naga yaitu lomba dayung di atas sungai Cisadane.

    Menurut seorang sesepuh, Sungai Cisadane masa lalu lebarnya lebih luas dibandingkan kondisi saat ini. Ketika itu pedagang bamboo sering melintas. Penulis sendiri masih bisa melihat semasa kecil. Pemandangan yang menarik. pedagang bamboo berdiri di atas rakit yang juga dibuat dari batang-batang bamboo. Perlahan-lahan si pedagang mendayung rakitnya. Dalam sehari bisa lebih dari tiga kali pedagang melintas. Rasanya pemerintah perlu melirik membuat jalur transportasi air melalui sungai Cisadane.

    Aroma mistis pun tidak bisa lepas jika membicarakan sungai Cisadane. Konon sering dikabari terdapat siluman buaya putih di sungai ini. Siluman ini berwujud buaya dan suka memangsa orang-orang yang sedang beraktifitas di tepi sungai, seperti mandi atau mencuci. Sampai pertengahan 80-an, memang masih ada masyarakat yang menggunakan aliran sungai Cisadane untuk mandi atau cuci. Buaya sendiri pun masih bisa ditemukan karena penulis pernah menemukannya di halaman belakang rumah.

    Kang Heru, fotograper wiwinaked "Action dikit ah"

    Tetapi masa kini sungai Cisadane menghadapi tantangan jaman yang begitu berat. Upaya melestarikan bisa terus berlangsung jika sungai Cisadane dijadikan sebagai symbol kota. Sehingga anak-cucu pun masih bisa menyaksikan sebuah sungai yang bersih dan indah.

    Tentang contry

    Penggemar sepeda tua, udara yang bersih dan sehat akan memberikan kita hidup lebih bermakna.
    Pos ini dipublikasikan di Forum Ilmu. Tandai permalink.

    Satu Balasan ke “Festival Ontel Cisadane”

    1. Maman Classic berkata:

      Terima kasih onthelis contry atas kunjungannya ke acara FOC , mohon maaf bila ada kekurangan kami dalam penerimaan dan pelayanan tamu

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s