History Contry

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN

  1. Organisasi ini bernama COMMUNITY ONTHEL TRIDAYA disingkat ” CONTRY “.
  2. CONTRY didirikan di desa Tridaya Sakti Tambun Bekasi  pada tanggal 29 Juni 2007.
  3. Kepengurusan organisasi berkedudukan di Perumahan  Tridaya Indah IV Blok D4 No. 15 Tambun selatan Bekasi.

 

Sepeda tua yang dipakai Ontelis Contry

Sepeda tua yang dipakai Ontelis Contry

   

Anggota Community Onthel Tridaya  ( CONTRY ) adalah :

Para pecinta dan pemilik sepeda tempo dulu yang telah mendaftarkan diri pada organisasi “ CONTRY”  yang telah memenuhi syarat-syarat keanggotaan yang ditetapkan oleh pengurus 

Misi dan Visi

  1. Menyalurkan hobby atas kepemilikan sepeda tua sebagai barang antik.
  2. Meningkatkan budaya silaturahmi sebagai bagian dari kegiatan.
  3. Bersepeda untuk sarana kesehatan dan refreshing.
  4. Membantu mengurangi peningkatan emisi gas buang pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor.
  5. Mempertahankan asset dan budaya bersepeda.
  6. Menjaga dan merawat sepeda tua agar tetap berfungsi sebagai warisan sejarah dan sarana transportasi.
  7. Sebagai wadah penghimpun bagi pengguna, pemilik, penggemar dan pencinta sepeda tua.
  8. Menjunjung tinggi nilai kebersamaan 

Sedikit cerita tentang kegiatan kami :

Contry tergabung dalam komitas sepeda tua seluruh indonesia dan salah satu penggagas dan Panitia pelaksanaan kongres sepeda tua tingkat nasional di Bogor.  pada tanggal 9 ~ 10 Februari 2008  

Berbagai ivent Nasional  yang kami telah ikuti adalah : 

Ontelis Nusantara

Ontelis Nusantara

  • Peringatan ulang tahun POC Bekasi yang pertama Juli 2007 
  • Peringatan ulang tahun KOBA Jakarta yang ke 2 ( dengan thema mengayuh pedal menapak perjuangan Agustus 2007. 
  • Peringatan ulang tahun pertama ke JOGJA dengan thema temu onthel nasional September 2007
  • Greend Festifal senayan Jakarta 1 ( Aksi hijau senayan  ) November 2007
  • Peringatan Hari ulang tahun Pedal ke 1 Indramayu
  • Peringatan Hari Ulang tahun SOC  Semarang
  • Sebagai salah satu penyelenggara Kongres nasional sepeda tua seluruh indonesia ( KOSTI ) Greend Festifal senayan Jakarta 2 ( Aksi untuk bumi ) Maret 2008
  • Memperingati hari kebangkitan Nasional Musium Nasional Jakarta  Mei 2008 
  • Turut mensukseskan HUT POC ke 2 dengan thema The Sky blue with Bicycle
  • Silaturahmi onthelis nasional Kosti  di Jakarta
  • Ulang tahun Podjok ke 2 Jogja kembali bersepeda  22 & 23 November  2008 

 Tentang kegiatan rutin kami :

Alhamdulilah, hari hari kami sangat terhibur dengan keberadaan  Onthel dirumah dan didalam lingkungan dalam berwarga dan bermasyarakat  Semakin hari penggemar sepeda lawas di tempat kami terus bertambah, senang rasanya karena dari bebagai macam karakter dan status dapat menyatukan satu hoby yang sama yaitu menbudayakan sepeda lawas dan berolah raga. dan mencoba  untuk mengembangkan Budaya bersepeda di Tambun dengan membentuk Komunitas dengan nama ” CONTRY ”  Yang tujuannya untuk membudayakan sejarah trasportasi Dunia, mendukung pemerintah untuk Menekan pemanasan global, sebagai sarana untuk berolahraga, dan rekreasi. Banyak manfaat yang kami dapat dari sini dan kami belum melakukan banyak hal kami masih terus memperbaiki dapur CONTRY dan kegiatan rutin mingguan di wilayah kami setiap minggu pagi kami berkumpul Di gerbang perumahan puri cendana selanjutnya touring ke kampung – kampung sekaligus wisata kuliner, pasti anda dapat menbayangkan indahnya bersepeda. 

                                                       

Ontelis bersama Wakil Presiden Republik Mimpi & Amin Rais

Ontelis bersama Wakil Presiden Republik Mimpi & Amin Rais

 

Replika Sukarno-Hatta dan Pendiri KOSTI

Replika Sukarno-Hatta dan Pendiri KOSTI

 

Ontelis di acara Hari Pahlawan di TV One

Ontelis di acara Hari Pahlawan di TV One

 

Kompak Bo.

Kompak Bo.

 

Lokasi Ontelis Contry ngumpul

Lokasi Ontelis Contry ngumpul

 

Saung tempat Contry ngumpul

Saung tempat Contry ngumpul

Dari saung yang sangat sederhana inilah ide-ide, uneg-2 & kreatifitas para ontelis contry bermunculan, do’akan kami semoga dapat memberikan yang terbaik buat Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI). 

By. Surachman

Admin  Contry.wordpress.com : Top’ix Contry.

Dipublikasi di Uncategorized | 16 Komentar

Hebatnya Presiden Kita (Soekarno) Dimata Dunia

“Hebatnya Presiden Kita Dimata Dunia”

di bandara Washington DC, AS

di bandara Washington DC, AS

Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956).

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno :

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno:

Perangko sukarno-presiden philipines

Kalo sekarang SBY ke amrik diperlakukan kayak gini ga ya??

Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy

Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy

Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).

 

Dipublikasi di Forum Ilmu | 1 Komentar

“Festival Ontel Cisadane”

Festival Ontel Cisadane

Tanggerang, 20-21 November 2010,  sebagai penyelenggara KOSTI KORWIL Tanggerang, yang diketuai oleh Everli Erwadi.

Background acara Festival Ontel Cisadane

Acara dihadiri oleh ontelis dari seluruh tanah air yang berjumlah seribu peserta,  Acara ini mengusung Ulang tahun Komunitas Konjti yang pertama dan penggalangan dana untuk korban bencana alam di indonesia.

Donasi Tuk Merapi dari rekan-2 Ontelis

Ketua KOSTI : H Daswara, sedang menaiki DKW hasil lelang diFOC.

Sebagai pemenang lelang motor DKW diacara “Festival Ontel Cisadane” yaitu Bapak Acep Suganda dari CONTRY-Bekasi.

"We are ready" Ontelis CONTRY - Bekasi.

Lumayan kami bisa bermalam dihotel berbintang tujuh dipinggiran sungai cisadane,  bersama rekan-2 Ontelis lainnya.

Asyiknya bersilaturahmi "Hidup Ontelis Indonesia - Hidup KOSTI".

KOSTI Korwil Bekasi (Dr Halim) menyerahkan Donasi tuk Merapi.

  • Stan Klitikan
  • Ini yg dicari Ontelis
  • Hayamas- H Basuki
  • Sejarah Sungai Cisadane


    Sungai yang mata airnya berada di Gunung Salak-Pangrango dengan posisinya sebelah selatan Kabupaten Tangerang ini merupakan sungai cukup besar melintasi Tangerang. Panjang sungai sendiri sekitar 80 kilometer dengan bermuara di Laut Jawa.

    Sejak dahulu sungai Cisadane telah dimanfaatkan sebagai pengairan. Kompeni Belanda sendiri telah membuat sebuah bendungan guna mengatur debit air sungai Cisadane yang akan mengalir ke Batavia. Jika tidak demikian dikhawatirkan kota Batavia terendam banjir cukup parah.

    Debit air sungai sendiri sangat bergantung curah hujan di daerah Bogor. Jika curah hujan tinggi bisa dipastikan debit air tinggi bahkan sampai akibatkan meluap. Saat penulis kecil, jarak rumah tidak terlalu jauh dari sungai. Pernah sekali warga sekampung dihebohkan air sungai yang meluap. Ketika itu mudah sekali mendapatkan ikan Lele, Sapu-Sapu, Gabus, dan lainnya. berbondong-bondong warga memenuhi tepi sungai dengan membawa ember. Senang sekali ketika itu bisa panen ikan tanpa repot memancing.

    Jembatan di Sungai Cisadane malam hari "sangat indah"

    Entah apakah ikan-ikan masih banyak di sungai Cisadane, lantaran masih adanya beberapa industri yang membuang limbahnya ke aliran sungai. Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang saja pernah mengeluarkan laporan bahwa sungai kebanggan masyarakat Tangerang ini telah tercemar zat limbah seperti sianida, tembaga, seng, dan sebagainya. Ironinya, air sungai digunakan sebagai bahan baku produksi PDAM Kota dan Kabupaten Tangerang yang mensuplai kebutuhan air bersih masyarakat.

    Untunglah masih ada perhatian pemerintah untuk menjaga kelestarian sungai Cisadane. Setidaknya pemerintah melarang pendirian rumah sepanjang bantaran sungai. Jika tidak, tentu limbah rumah tangga menambah pencemaran. Bisa jadi air sungai yang semula coklat berubah menjadi hitam dan bau seperti nasib sejumlah sungai di kota Jakarta. Pemerintah juga bertindak keras terhadap industri yang masih bandel membuang sampah ke sungai.

    Bendungan Cisadane tempo dulu

    Bendungan Cisadane saat ini dengan nama "Bendungan Pintu Sepuluh"

    Pernah ada rencana menjadikan sungai Cisadane sebagai objek wisata dengan menyediakan perahu yang bisa disewa untuk susuri sungai. Hanya saja, rencana yang sudah terlakana itu tidak ditangani serius. Saat ini paling setahun sekali digelar Festival Perahu Naga yaitu lomba dayung di atas sungai Cisadane.

    Menurut seorang sesepuh, Sungai Cisadane masa lalu lebarnya lebih luas dibandingkan kondisi saat ini. Ketika itu pedagang bamboo sering melintas. Penulis sendiri masih bisa melihat semasa kecil. Pemandangan yang menarik. pedagang bamboo berdiri di atas rakit yang juga dibuat dari batang-batang bamboo. Perlahan-lahan si pedagang mendayung rakitnya. Dalam sehari bisa lebih dari tiga kali pedagang melintas. Rasanya pemerintah perlu melirik membuat jalur transportasi air melalui sungai Cisadane.

    Aroma mistis pun tidak bisa lepas jika membicarakan sungai Cisadane. Konon sering dikabari terdapat siluman buaya putih di sungai ini. Siluman ini berwujud buaya dan suka memangsa orang-orang yang sedang beraktifitas di tepi sungai, seperti mandi atau mencuci. Sampai pertengahan 80-an, memang masih ada masyarakat yang menggunakan aliran sungai Cisadane untuk mandi atau cuci. Buaya sendiri pun masih bisa ditemukan karena penulis pernah menemukannya di halaman belakang rumah.

    Kang Heru, fotograper wiwinaked "Action dikit ah"

    Tetapi masa kini sungai Cisadane menghadapi tantangan jaman yang begitu berat. Upaya melestarikan bisa terus berlangsung jika sungai Cisadane dijadikan sebagai symbol kota. Sehingga anak-cucu pun masih bisa menyaksikan sebuah sungai yang bersih dan indah.

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 1 Komentar

    Contry di Bandung

    Bandung laoetan Ontel

    Gedung Asia Afrika

    Bersama Ontelis Jawa Timur

    Bersama pasti bisa.

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 6 Komentar

    Contry di KOMBET

    “Kegiatan KOSTI Korwil Bekasi”

    Dalam Rangka Hut Kombet yang pertama Contry ikut menyemarakan diacara Hut pertama KOMBET ” Komunitas Ontel Bekasi Timur”. Undangan dihadiri dari berbagai komunitas yang ada di Sekitar Bekasi, Karawang & Jakarta, Kebetulan Hadir diacara itu Ketua KOSTI yang diWakili Oleh H. Dimas, Bpk Acep Suganda, Bpk Surachman dan Dihadiri juga Ketua KOSTI JABODETABEK & KWA Bpk Joko Rinto.

    Dan diacara ini juga diadakan penyempurnaan pengurus KOSTI Wilayah Bekasi.

    Berikut Cuplikannya :
    Para Ontelis diacara Hut 1 Kombet

    Bpk H Dimas

    Hadir Kosti Pusat, Bpk H Dimas

    Marawis+Rabana

    Disambut dengan Marawis+Rabana

    Touring Sekitar Legenda

    Touring Sekitar Legenda

    Touring

    Touring Sekitar Legenda

    Touring

    Touring sekitar Bantargebang

    Istirahat

    Istirahat disekitar Danau Kota Grand Wisata

    Istirahat sambil Memikmati Rambutan

    Istirahat sambil Memikmati Rambutan

    Istirahat sambil Menikmati Rambutan

    Istirahat sambil Menikmati Rambutan

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 10 Komentar

    Merk-merk sepeda tua

    Setiap pagi sepeda tua itu berangkat dari pinggir sawah menuju pasar yang letaknya 8 kilo meter dari kampung nun jauh disana.

    Kakek tua itu sangat senang melihat sepeda yg dulu dipakainya masih seperti waktu ia muda dulu, hanya catnya saja yang sudah lusuh.

    Cerita diatas hanyalah sedikit cerita tentang sepeda tua yang kita gemari, ada beberapa Merk sepeda tua yang ada di Indonesia,  contohnya antara lain :

    FONGERS.

    FONGERS DAMES 1930

    SIMPLEX :

    SIMPLEX

    SIMPLEX KRUISFRAME

    SIMPLEX HEREN

    TRIUMPH :

    TRIUMPH 1960

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 19 Komentar

    Asal Nama Indonesia

    SEJARAH NAMA INDONESIA

    Posisi Indonesia

    Posisi Indonesia

    James Richardson Logan, Sang Pencipta Nama Indonesia

    Ontelis Indonesia

    Ontelis Indonesia


    Sepeda Tua yang banyak digemari oleh Ontelis, sebagai sarana mengingat sejarah dan forum silaturahmi ontelis nusantara.

    Sepeda Tua yang banyak digemari oleh Ontelis, sebagai sarana mengingat sejarah dan forum silaturahmi ontelis nusantara.

    OKTOBER lalu di Penang guna mencari makam James Richardson Logan, salah satu warga kehormatan Penang, yang juga menciptakan kata, thus khayalan tentang, Indonesia.
    Francis Loh Kok Wah, seorang profesor dari Universiti Sains Malaysia, blogger Anil Netto dan wartawan Himanshu Bhatt menemani mencari makam tersebut. Francis Loh di kenal dengan bukunya Democracy in Malaysia: Discourses and Practices. Dia juga lulusan Cornell University serta teman dekat Arief Budiman, dosen Universitas Melbourne, yang pernah mengajar pada 1980an di Salatiga.

    Kami naik mobil Anil Netto dan berangkat dari The Gurney Resort Hotel, tempat saya menginap, menuju Jalan Sultan Ahmad Shah, dekat Lebuh Farquhar. Pemakaman terdapat di Jalan Sultan Ahmad Shah. Pintu masuk terletak persis depan Pusat Servis Kereta Toyota. Di belakang Protestant Cemetery terletak Catholic Cemetery. Mungkin ini pengaruh Inggris dimana orang Protestan dan Katholik dimakamkan terpisah. Di Jakarta, Salatiga, Semarang atau Surabaya, saya lihat kuburan Belanda tak dipisahkan antara Protestan dan Katholik.

    Mulanya, kami mengamati sebuah papan dimana nama-nama orang penting yang dimakamkan dicatat. Pemakaman ini yang paling tua di Pulau Pinang. Ia didirikan oleh Francis Light, orang Inggris yang menyewa pulau ini dari Sultan Kedah pada tahun 1786, guna mendirikan koloni Inggris dengan nama resmi Straits Settlement. Posisi Pulau Pinang memang strategis di Selat Malaka. Kelak posisi strategis Selat Malaka juga memancing Thomas Raffles mendirikan pelabuhan Singapura pada 1819. Kerajaan Belanda, seabad sesudah Francis Light mendirikan koloni Penang, membangun pelabuhan Sabang di Pulau Weh, juga di Selat Malaka, pada 1887. Pemakaman Protestan ini didirikan pada 1789 atau tiga tahun sesudah kontrak dengan Sultan Kedah mulai. Francis Light juga dimakamkan disini. Dia meninggal karena malaria pada 21 Oktober 1794.

    Francis Loh memimpin rombongan kecil kami menelusuri makam demi makam. Francis Loh kelahiran Penang. Dia lincah sekali, mencari batu nisan, satu demi satu. Banyak pepohonan tua dan rindang di makam ini. Tapi juga banyak nyamuk kecil. Saya sering memukul nyamuk di lengan dan kaki. Secara umum, ini pemakaman yang indah. Saya sering lihat kuburan ini diterakan dalam brosur turisme Penang. Ia juga bagian dari Penang Heritage Walk ?sebuah route khusus jalan-jalan di Penang dimana tempat-tempat bersejarah diberi pengumuman, peta dan sejarahnya. American Express adalah sponsor dari Penang Heritage Walk.

    Francis, Anil dan Himanshu tertarik membantu ketika saya beritahu bahwa James Richardson Logan adalah orang yang menciptakan kata ?Indonesia.? Mereka kenal nama Logan. Di Penang ada Logan Street. Namun mereka tak sangka Logan pula yang menciptakan kata Indonesia.

    Kepulauan Indonesia

    Kepulauan Indonesia

    Akhirnya, kami menemukan batu makam James Richardson Logan serta saudaranya, Abraham. Mereka dimakamkan bersama-sama. Tinggi makam ini sekitar 1.5 meter. Disana tercantum tanggal kelahiran dan kematian mereka. Saya duduk dan merenung. Himanshu mengambil gambar.

    Di papan pengumuman, James Logan diterangkan sebagai, ?Penang?s foremost man of the press and champion of the natives causes, enshrined in the Logan Memorial in the grounds of the high court.? Antara 1847 dan 1859, dia menerbitkan Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, yang kadang juga disebut Logan?s Journals total 27 volume, serta buku Language and Ethnology of the Indian Archipelago. Logan juga dikenal sebagai pembela hak asasi orang non-Eropa. Saya senang dengan keterangan ini. Logan dinilai sebagai seorang wartawan.

    Menariknya, kami juga menemukan makam George Samuel Windsor Earl, mentor dan kolega James Logan. Earl adalah orang yang mula-mula membuka diskusi soal bagaimana mereka harus menamakan pulau-pulau yang terletak di Selat Malaka itu? Baik Semenanjung Malaka, Pulau Sumatra, Borneo, Jawa dan sebagainya. Dalam papan pengumuman, Earl diterangkan sebagai ?asistant resident councillor? Straits Settlement pada 1805 hingga 1865 serta mengarang buku The Eastern Seas. Terminologi ?eastern seas? mengacu pada kepulauan yang sekarang disebut Indonesia, Singapura, Brunei, Filipina dan Malaysia.

    KATA ?Indonesia? pertama kali dibuat pada 1850 ?mulanya dalam bentuk ?Indu-nesians?? oleh George Samuel Windsor Earl. Dia menulisnya dalam Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia. Earl sedang mencari-cari terminologi etnografis untuk menerangkan ?? that branch of the Polynesian race inhabiting the Indian Archipelago? atau ?the brown races of the Indian Archipelago.?

    Namun, walau sudah menggabungkan dua kata itu, masing-masing dari kata ?Indu? atau ?Hindu? dengan kata ?nesos? atau ?pulau? dari bahasa Yunani, Earl menolaknya sendiri. Dia menganggap kata ?Indunesia? terlalu umum. Earl menawarkan terminologi lain, yang dinilainya lebih jelas, ?Malayunesians.?

    Himanshu Bhatt mengatakan pada saya bahwa kata ?mala? atau ?malaya? artinya ?gunung? dari bahasa-bahasa Tamil atau Dravidia di kawasan India. Dia mengingatkan saya nama Puncak Himalaya. Kata ?him? ?termasuk dalam nama Himanshu sendiri? artinya es atau dingin atau salju. Maka Himalaya artinya ?gunung salju.? Para pendatang Tamil atau Kerala dari waktu tiu British India, ketika tiba di Pulau Penang mengikuti Francis Light, menyebut orang-orang lokal, yang tinggal di sekitar gunung, sebagai ?Malayan? alias ?orang gunung.? Malayan lantas berubah jadi Malay dan Melayu.

    James Logan menanggapi usul George Earl soal ?Indunesians.? Logan berpendapat ?Indonesian? merupakan kata yang lebih menjelaskan dan lebih tepat daripada kata ?Malayunesians,? terutama untuk pemahaman geografi, daripada secara etnografi.

    ?I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian islands or the Indian Archipelago. We thus get Indonesian for Indian Archipelagian or Archipelagic, and Indonesians for Indian Archipelagians or Indian Islanders.?

    R. E. Elson dalam bukunya The Idea of Indonesia menulis James Logan adalah orang pertama yang menggunakan kata ?Indonesia? untuk menerangkan kawasan ini. Logan lantas memakai kata ?Indonesian? maupun ?Indonesians? untuk menerangkan orang-orang yang tinggal di kawasan ini. Dia membagi ?Indonesia? dalam empat daerah, dari Sumatra hingga Formosa.

    Namun kata ?Indonesia? tak segera populer. Elson menerangkan bahwa pada 1877, E. T. Hamy, seorang anthropolog Prancis, memakai kata ?Indonesians? untuk menerangkan kelompok-kelompok pra-Melayu di kepulauan ini. Pada 1880, anthropolog Inggris A. H. Keane mengikuti Hamy. Perlahan-lahan kata ?Indonesia? dipakai para ilmuwan sosial, termasuk Adolf Bastian, ahli etnografi terkenal dari Berlin, yang setuju dengan penjelasan James Logan serta memakai kata ?Indonesia? dalam karya klasiknya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel, lima jilid terbitan 1884?1894. Reputasi Bastian membuat kata ?Indonesia? jadi pindah dari jurnal kecil terbitan Penang ke tempat terhormat di kalangan akademisi Eropa.

    Berkibar Bendera Indonesia

    Berkibar Bendera Indonesia

    Ia mendorong profesor-profesor di Belanda ikut memakai terminologi ini. G. A. Wilken, profesor di Universitas Leiden, pada 1885 memakai kata ?Indonesia? untuk menerangkan Hindia Belanda. Wilken mengagumi karya Adolf Bastian. Profesor lain termasuk H. Kern (ahli bahasa kuno), G. K. Niemann, C. M. Pleyte, Christiaan Snouck Hurgronje maupun A. C. Kruyt, mengikuti Wilken.

    Pada awal abad 20, kata benda ?Indonesier? dan kata sifat ?Indonesich? sudah tenar digunakan oleh para pemrakarsa politik etis, baik di Belanda maupun Hindia Belanda. Pada September 1922, saat pergantian ketua antara Dr. Soetomo dan Herman Kartawisastra, organisasi Indische Vereeniging di Belanda mengubah nama menjadi Indonesische Vereeniging. Perhimpunan ini banyak berperan dalam merumuskan nasionalisme Indonesia. Pada 1926, ketika Mohammad Hatta menjadi ketua Indonesische Vereeniging, pembentukan nasionalisme Indonesia makin dimatangkan. Ia hanya soal waktu sebelum terminologi ?Indonesia? digunakan oleh orang-orang berpendidikan di kota-kota besar Hindia Belanda.

    Francis Loh Kok Wah juga mengajak saya melihat Logan Memorial. Pada batu marmer dijelaskan bahwa James Logan kelahiran Berwickshire, Skotlandia, pada 10 April 1819. Dia kuliah hukum di Edinburg. Dia tiba di Penang pada 1840, saat berumur 20 tahun, bersama saudaranya, Abraham. Mereka pindah ke Singapura pada 1842 namun James kembali ke Penang pada 1853. Dia membeli dan menyunting Penang Gazette. Abraham tinggal di Singapura serta mendirikan suratkabar Singapore Free Press.

    Sepeda Englang (Hercules) & Indonesia (Turangga)

    Sepeda Englang (Hercules) & Indonesia (Turangga)

    Namun James Logan meninggal sakit malaria pada 20 Oktober 1869 dalam usia 50 tahun. Kematian James Logan dianggap sebagai kehilangan besar di Penang. Masyarakat Straits Settlement, termasuk orang Eropa, India, Cina maupun Melayu, mengumpulkan uang dan mendirikan peringatan untuk menghormati James Richardson Logan. Dudukan dari memorial ini punya empat sisi. Masing-masing dicantumkan kata sifat yang mencerminkan kepribadian James Logan: temperance (kesederhanaan), justice (keadilan), fortitude (tabah, ulet) dan wisdom (bijak).

    Memorial ini mulanya didirikan di depan Supreme Court guna mengingat apa yang dilakukan James Logan untuk masyarakat Penang. Saat Perang Dunia II, memorial ini dipindahkan, namun dikembalikan lagi ke posisi semula. Tahun lalu, ia dipindahkan ke tempat sekarang, mengikuti renovasi dan perluasan gedung mahkamah hukum ini. Di memorial marmer ini ditulis, ?He was an erudite and skillful lawyer, an eminent scientific ethnologist and he has founded a literature for these settlements ?.?

    Francis Loh mengatakan bahwa saya adalah orang kedua yang minta bantuannya keliling Penang serta mencari sesuatu dari masa lalunya. Orang pertama adalah Benedict Anderson, profesor dari Cornell University, yang terkenal dengan buku Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.

    Dalam Penang Heritage Trust Newsletter edisi Mei-Juli 2003, Anderson menulis pengalamannya menelusuri Penang. Dia bilang ayahnya, James Carew O?Gorman Anderson, meninggal pada 1946 ketika Benedict baru berumur sembilan tahun, adik lelakinya umur tujuh dan adik perempuan tiga tahun. Anderson bersaudara kurang mengenal ayah mereka kecuali tahu bahwa dia dilahirkan di Penang pada Juli 1893. James Anderson tinggal di sebuah bungalow bernama Grace Dieu di Penang Hill. Dia seorang insinyur militer dengan pangkat kapten. Dia menikah dengan Veronica Beatrice Mary. Anak pertama mereka, Benedict, lahir di Kunming, Tiongkok, pada 1936. Keluarga Anderson pindah ke California pada 1941.

    Ini kebetulan yang menarik sekali. James Richardson Logan adalah orang yang menciptakan khayalan soal Indonesia, betapa pun kaburnya terminologi tersebut, pada 1850. Benedict Anderson adalah guru nasionalisme terkemuka, yang banyak menggunakan Indonesia sebagai bahan studinya dalam buku Imagined Communities, terbitan 1991. Mereka terkait dengan Penang. Karya mereka terpaut sekitar 150 tahun.

    Presiden Republik Indonesia dari yang Pertama s/d Terakhir

    Presiden Republik Indonesia dari yang Pertama s/d Terakhir

    Hari ini, terminologi Indonesia lebih dilekatkan pada negara Indonesia, yang menggantikan Hindia Belanda, pada 1950, seratus tahun sesudah polemik George Earl dan James Logan. Indunesia dalam terminologi Logan berubah menjadi beberapa negara, termasuk Indonesia, Singapura dan Malaysia. Ironisnya, Penang, tempat dimana nama dan khayalan ini diciptakan, tidak masuk dalam wilayah negara Indonesia. Penang masuk Malaysia. Semenanjung Malaka dan Pulau Sumatra, yang kebudayaannya kental Melayu, terpisah menjadi dua negara. Papua Barat, yang sama sekali tak masuk dalam khayalan Logan, malah masuk wilayah Indonesia. Malaysia dan Indonesia menjadi dua negara berbeda karena mulanya mereka disatukan secara administrasi oleh dua kerajaan Eropa yang berbeda: Kerajaan Inggris dan Kerajaan Belanda. Lucunya, dalam buku-buku pelajaran sejarah-sejarahan, Indonesia dikatakan ada sejak zaman Majapahit, lengkap dengan Sumpah Palapa oleh pati Gajah Mada dan gula-gula lainnya. Perjalanan ke Protestant Cemetery mengungkapkan politik real.

    Saya senang bisa berjalan-jalan di Protestant Cemetery bersama Francis Loh, Anil Netto dan Himanshu Bhatt. Francis cerita dengan passionate bagaimana dia menemani Anderson, mantan profesornya di Cornell, jalan-jalan di kuburan dan Penang Hill. Sore yang indah. Kami kembali ke The Gurney Resort Hotel dengan banyak kenangan. Saya lega bisa melihat makam orang yang menciptakan khayalan Indunesia.

    Proklamasi Republik Indonesia

    Proklamasi Republik Indonesia

    ( sumber: andreasharsono )

    Wassalam. Topixcontry.

    Ontelis Indonesia

    Ontelis Indonesia

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 27 Komentar

    Contry menuju “Banten lama”

    Pada tanggal 8 Agustus 2009 CONTRY menghadiri acara Deklarasi KOSTI BANTEN yang diadakan di Jalan Veteran Serang – Banten, tepatnya di Aula Pemkot Serang.

    Ontelis Contry

    Menara Masjid Agung

    Menara Masjid Agung

    Ontelis dibawah menara Masjid Agung Banten lama.

    Ontelis dibawah menara Masjid Agung Banten lama.

    Agenda acara : Deklarasi KOSTI Prov Banten
    Dari acara registrasi, sambutan tuan rumah, ramah tamah, Deklarasi KOSTI Banten sampai acara Touring sangat berkesan.

    (Star Touring) Ontelis dari seluruh pelosok negri hadir dalam acara ini.

    (Star Touring) Ontelis dari seluruh pelosok negri hadir dalam acara ini.

    Penandatanganan terbentuknya KOSTI Serang.

    Penandatanganan terbentuknya KOSTI Serang.

    Ontelis didalam Masjid Agung Banten Lama

    Ontelis didalam Masjid Agung Banten Lama

    Dengan di Deklarasikannya KOSTI banten maka bertambah pula forum silaturahmi & saudara-saudara dari ujung barat pulau jawa yang terkenal dengan Debus-nya, yang membuat jantung berdebar-debar.

    Ontelis sedang mencoba aksi dari pendekar Banten (debus)

    Ontelis sedang mencoba aksi dari pendekar Banten (debus)

    Banyak lokasi-2 sejarah yang ada dikota Banten yang perlu ditangani dengan serius, karena dari beberapa lokasi gedung ataupun bangunan tua yang kami lewati terlihat bangunan tidak terpelihara dengan baik, jalan yang menuju lokasi wisata sangat sempit untuk ukuran BUS yang lalu lalang begitu banyaknya.

    Maklumat dipintu masuk Museum Sejarah Banten Lama

    Maklumat dipintu masuk Museum Sejarah Banten Lama

    Peninggalan Sejarah alat Boga terbuat dari Keramik & Perunggu

    Peninggalan Sejarah alat Boga terbuat dari Keramik & Perunggu

    Peninggalan kejayaan Banten lama

    Peninggalan kejayaan Banten lama

    Situs Benteng Surosowan

    Situs Benteng Surosowan

    Kami dari Contry menghimbau kepada PEMDA Banten agar merenovasi gedung/ bangunan bersejarah tersebut tanpa merubah Estetika dari gedung & sejarahnya, Prasarana-nya seperti jalanan diperlebar, lokasi wisata dibuat senyaman mungkin, minimal kebersihan lokasi wisata diperhatikan.

    Dari beberapa Obyek wisata kami melihat Mesjid Agung Banten adalah lokasi wisata yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat.

    Peninggalan-2 sejarah seperti Guci, keris, koin, keramik dll bisa dilihat di museum Banten Lama.

    Peninggalan-2 sejarah seperti Guci, keris, koin, keramik dll bisa dilihat di museum Banten Lama.

    Istana Sultan Maulana - Lokasi yang paling bagus, terpelihara dengan baik.

    Istana Sultan Maulana - Lokasi yang paling bagus, terpelihara dengan baik.

    Contry ingin sekali memberikan pencerahan buat kalayak ramai tentang sejarah dari Masjid Agung Banten lama dengan menyadur tulisan dari Adib Minanurrachim, inilah uraiannya :
    MASJID AGUNG BANTEN LAMA :  NAFAS SEJARAH DAN BUDAYA

    Masjid berarsitektur unik, perpaduan gaya Hindu Jawa, China dan Eropa. Tapi tetap sarat nilai-nilai Islami.

    BERDIRINYA Masjid Agung Banten tidak lepas dari tradisi masa lalu, di mana dalam sebuah kota Islam terdapat minimal 4 komponen. Pertama, ada istana sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja-raja. Kedua, Masjid Agung sebagai pusat peribadatan. Ketiga, ada alun-alun sebagai pusat kegiatan dan informasi. Keempat, ada pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi. Keempat komponen ini, jejaknya masih terdapat di Desa Banten Lama Kecamatan Kasemen Kabupaten Serang. Tapi yang masih kokoh berdiri dan berfungsi hingga saat ini hanya Masjid Agung.
    Masjid Agung Banten, sebagaimana masjid tua dan bersejarah lainnya, selalu diramaikan para peziarah yang bisa mencapai ribuan orang dari berbagai daerah di Jawa umumnya. Sering kali jumlah mereka mencapai puncaknya pada bulan Syawal, Haji, Maulud, Rajab dan Ruwah. Sementara setiap hari Kamis, Jumat dan Minggu juga menjadi hari pilihan bagi para peziarah untuk mengunjungi Masjid Banten. Ada juga waktu yang paling ramai yaitu malam Jum’at ketika malam 14 bulan purnama. “Mereka percaya malam Jumat tanggal 14 bulan purnama adalah waktu di mana para auliya’ berkumpul dan bermusyawarah sehingga dikeramatkan, dan bila berziarah pada tanggal itu doanya mustajabah. Meski faktanya, tidak semua orang berdoa dan beriktikaf di masjid, ada juga yang main-main,” kata M. Al Hatta Kurdie, Sie Pendidikan dan Informasi Kenadziran Masjid Agung Banten Lama.
    Bangunan masjid yang terletak sekira 10 km sebelah utara Kota Serang ini merupakan peninggalan Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), putera pertama Sunan Gunung Jati. Konon, pembangunan Masjid Agung Banten bermula dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada Hasanuddin untuk mencari sebidang tanah yang masih suci untuk pembangunan Kerajaan Banten. Hasanuddin lalu shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang tanah yang dimaksud ayahandanya. Setelah berdo’a, spontanitas air laut yang berada di sekitarnya menyibak menjadi daratan. Selanjutnya, Hasanuddin mulai mendirikan Kerajaan Banten beserta komponen-komponen lainnya, seperti alun-alun, pasar dan masjid agung.
    Dalam pembangunan masjid agung, salah satu arsiteknya adalah Raden Sepat. “Raden Sepat mulanya dari Majapahit, kemudian membangun Masjid Demak, Cirebon dan Masjid Banten Lama ini. Jadi bukan ketaksengajaan bila antara masjid Demak, Cirebon dan Banten Lama secara arsitektur ada mata rantainya. Misalkan dari sisi atapnya, Masjid Agung Demak dan Cirebon itu memiliki atap tiga susun yang bermakna Iman, Islam dan Ikhsan. Ini hampir sama, hanya saja di sini lebih banyak yaitu lima susun, bermakna rukun islam,” kata Hatta Kurdie.
    Selain Raden Sepat, beberapa kalangan menyebut Cek Ban Cut sebagai arsitek lainnya. Pendapat ini berangkat dari analisis pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom Pagoda China. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
    Dua tumpukan atap paling atas itu tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai elemen estetik.
    Sejauh ini belum ada arsitektur masjid yang serupa dengan Masjid Agung Banten. Hanya lukisan Masjid Jepara sekira abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.

    Penjual koin recehan didepan Masjid Agung

    Penjual koin recehan didepan Masjid Agung

    ***
    ELEMEN menarik lainnya adalah menara di sebelah timur yang besar dan monumental serta tergolong unik karena belum pernah terdapat bentuk menara seperti itu di Jawa, bahkan di seluruh Nusantara. Karena menara bukanlah tradisi yang melengkapi masjid di Jawa pada masa awal, maka Masjid Agung Banten termasuk di antara masjid yang mula-mula menggunakan unsur menara di Jawa.
    Menara berkonstruksi batu bata setinggi kurang lebih 24 meter ini, konon dulunya lebih berfungsi sebagai menara pandang ke lepas pantai karena bentuknya mirip mercusuar daripada sebagai tempat mengumandangkan azan. Dan semua berita Belanda tentang Banten hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.
    Catatan Dirk van Lier di tahun 1659 maupun Wouter Schouten yang datang pada tahun 1661 menyebut, menara masih digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata/amunisi orang Banten. Kemudian baru antara lain tulisan Stavorinus yang menulis tentang Banten tahun 1769 menyebut menara sebagai tempat memanggil orang untuk bersembahyang.
    Berita itu menunjukkan pula menara telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan menikah.
    Seperti dikatakan Pijper (1947:280), menara berbentuk segi delapan itu mengingatkan pada bentuk mercusuar, khususnya mercu Belanda. Saat ini ada bukti peninggalan mercusuar buatan Belanda di Anyer sebelah barat Serang dari abad ke-19, yakni bangunan mercusuar yang dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan Menara Masjid Agung Banten. Bentuk tersebut lazim ditemukan di Negeri Belanda, seperti segi delapan, pintu lengkung bagian atas, konstruksi tangga melingkar seperti spiral, dan kepalanya memiliki dua tingkat. Dari sini, banyak pendapat yang menyimpulkan bahwa pembangunan menara segi delapan dan beberapa tiang penyanggah atap masjid yang juga bersegi delapan dipengaruhi arsitektur Belanda.
    Tapi demikian, Hatta Kurdie berpendapat lain. “Masjid ini dibangun jauh sebelum Belanda masuk ke Indonesia. Belanda masuk Banten itu kan tanggal 22 Juni 1596. Sementara masjid ini dibangun tahun 1552. Ada juga pendapat lain, bahwa ini pengaruh dari Budha yang memiliki delapan dewa penguasa delapan penjuru mata angin. Tapi saya lebih sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa segi delapan pada menara dan ke 24 tiang penyangga atap masjid itu merupakan ide cerdas dari Raden Sepat. Delapan itu merupakan hasil pembagian dari 24 dibagi 3. Ke 24 tiang itu simbol waktu, 24 jam. Sementara 3 adalah simbol dari ibadah, ma’isyah dan istirohah. Jadi pesan yang ingin disampaikan, agar umat islam bisa memanfaatkan waktu seadil-adilnya untuk ketiga hal tersebut yang masing-masing memiliki alokasi waktu sebanyak 8 jam,” jelasnya.
    Sementara itu, di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.
    ***
    SEBENARNYA masih banyak elemen unik lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.
    Menurut Hatta Kurdie, labu tersebut merupakan simbol dari pertanian. Karena Banten Lama terkenal makmur, gemah rimpah loh jinawi. Bahkan pada masa kepemimpinan Maulana Yusuf , Banten terkenal dengan persawahannya yang luas hingga mencapai batas sungai Citarum. Dan keberadaan Danau Tasikardi merupakan bukti lain yang menguatkan pendapat ini.
    Selain itu, terdapat mimbar yang besar dan antik penuh hiasan dan warna. Beberapa kalangan mengatakan, tempat khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23 Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Sementara Hatta Kurdie mengatakan, mimbar itu merupakan buah karya Cek Ban Cut, arsitek kebangsaan China yang berganti nama menjadi Pangeran Wiradiguna setelah masuk Islam. Pendapat ini berangkat dari gaya arsitektur yang lebih mirip dengan budaya China, semacam pagoda. Bahkan warnanya pun mirip dengan klenteng.
    Berbeda dari mimbarnya yang menarik perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini berbeda dari mihrab yang berkembang pada masjid di belahan dunia lain.
    Adanya pendopo dan kolam untuk wudu di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa. Kemudian pintu depan yang dibangun dengan ukuran kecil dan pendek, dapat ditafsirkan berupa ajakan agar saat masuk masjid, kita harus bersikap tawadhu, rendah hati dan tidak boleh sombong.
    Yang aneh adalah tata letak makam Sultan Maualana Hasanuddin beserta keluarganya. Secara tradisi, makam pendiri masjid pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun di masjid ini diletakkan di sisi utara. Padahal di sebelah barat Masjid Agung Banten terdapat makam Syarif Husein, penasehat Maualana Hasanuddin. Motif tata letak ini juga terdapat di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti di Masjid Kasunyatan yang dibangun oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Hasanuddin. Makam Maulana Yusuf tidak bertempat di sebelah barat masjid di mana terdapat makam gurunya, Syekh Madani. Melainkan berada di tengah sawah. Mengenai makam Maulana Yusuf ini, Hatta Kurdie berasumsi bahwa peletakan makam di areal sawah tersebut karena kecintaan Maulana Yusuf yang ahli pertanian, terhadap pertanian.
    Demikianlah potret Masjid Agung Banten Lama, sebuah peninggalan sejarah yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan multi budaya tapi tetap sarat nilai-nilai Islam. Tapi sayang, sejauh pengamatan wartawan SC. Magazine, pemeliharaan terhadap situs sejarah ini kurang maksimal dengan adanya kekeroposan tembok di mana-mana dan rumput liar serta sampah di halaman masjid.

    Dipublikasi di Forum Ilmu | 6 Komentar